Sahabat SANTRI – Sumatera adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa dengan budayanya masing-masing. Tradisi suku sumatera memiliki tradisi dan kebiasaan tersendiri dalam menyambut bulan Ramadhan. Namun, tidak semua tradisi tersebut diperbolehkan oleh ulama.
Berikut adalah beberapa tradisi suku Sumatera yang dilarang dalam menyambut bulan Ramadhan:
1. Melayu
Di Sumatra Utara, masyarakat Melayu memiliki tradisi mandi balimau dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan mandi menggunakan jeruk nipis, daun pandan, dan akar wangi. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Namun, tradisi balimau ini dilarang oleh ulama karena dianggap mengandung unsur syirik. Hal ini dikarenakan dalam tradisi balimau, masyarakat Melayu berdoa kepada jin atau roh-roh halus agar diberikan perlindungan selama bulan Ramadhan.
2. Jawa Sumatera
Di Sumatra Selatan, masyarakat Jawa memiliki tradisi sedekah laut dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan menaburkan sesaji ke laut sebagai bentuk permohonan kepada para dewa agar diberikan keselamatan dan kesejahteraan selama bulan Ramadhan.
Tradisi sedekah laut ini juga dilarang oleh ulama karena dianggap mengandung unsur syirik. Hal ini dikarenakan dalam tradisi sedekah laut, masyarakat Jawa berdoa kepada para dewa agar diberikan perlindungan.
3. Batak
Di Sumatra Utara, masyarakat Batak memiliki tradisi marpangir dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan memasak berbagai macam makanan dan minuman tradisional. Tujuannya adalah untuk menghibur keluarga dan tetangga menjelang bulan Ramadhan.
Tradisi marpangir ini tidak dilarang oleh ulama karena tidak mengandung unsur syirik. Namun, ulama menganjurkan agar tradisi ini tidak dilakukan secara berlebihan agar tidak menimbulkan kemudaratan.
4. Aceh
Di Aceh, masyarakat Aceh memiliki tradisi membakar menyan dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan membakar menyan di depan rumah atau di masjid. Tujuannya adalah untuk mengusir roh-roh jahat dan mengundang malaikat.
Tradisi membakar menyan ini dilarang oleh ulama karena dianggap mengandung unsur syirik. Hal ini dikarenakan dalam tradisi ini, masyarakat Aceh berdoa kepada roh-roh halus agar diberikan perlindungan.
5. Minang
Di Sumatra Barat, masyarakat Minangkabau memiliki tradisi mandi balimau dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan mandi menggunakan jeruk nipis, daun pandan, dan akar wangi. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Tradisi balimau ini juga dilarang oleh ulama karena dianggap mengandung unsur syirik. Hal ini dikarenakan dalam tradisi balimau, masyarakat Minangkabau berdoa kepada jin atau roh-roh halus agar diberikan perlindungan selama bulan Ramadhan.
6. Nias
Di Sumatra Utara, masyarakat Nias memiliki tradisi mandi uap dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan mandi di dalam ruang yang dipanaskan dengan api. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Tradisi mandi uap ini tidak dilarang oleh ulama karena tidak mengandung unsur syirik. Namun, ulama menganjurkan agar tradisi ini tidak dilakukan secara berlebihan agar tidak menimbulkan kemudaratan.
Penyebab Tradisi Dilarang
Ada beberapa faktor yang menyebabkan tradisi-tradisi tersebut dilarang oleh ulama, antara lain:
- Mengandung unsur syirik. Tradisi-tradisi tersebut dianggap mengandung unsur syirik karena masyarakat yang melakukannya berdoa kepada selain Allah SWT.
- Merupakan bentuk bid’ah. Tradisi-tradisi tersebut dianggap merupakan bentuk bid’ah karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
- Merupakan bentuk kemusyrikan. Tradisi-tradisi tersebut dianggap merupakan bentuk kemusyrikan karena masyarakat yang melakukannya melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama Islam.
Pendapat Ulama
Ulama-ulama di Sumatera memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai tradisi-tradisi tersebut. Sebagian ulama berpendapat bahwa tradisi-tradisi tersebut harus ditinggalkan karena mengandung unsur syirik dan bid’ah. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa tradisi-tradisi tersebut tidak boleh ditinggalkan karena merupakan bagian dari budaya yang harus dilestarikan.
Tradisi-tradisi suku Sumatera dalam menyambut bulan Ramadhan merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Namun, penting untuk diingat bahwa tradisi-tradisi tersebut harus disesuaikan dengan ajaran agama Islam.