Generasi Z FOMO Politik – Pemilu 2024 menjadi ajang pembuktian kekuatan suara Gen Z. Generasi kelahiran 1997-2012 ini mendominasi daftar pemilih pemula dengan perkiraan 46,8 juta jiwa. Namun, di balik jumlah yang masif, muncul fenomena menarik: FOMO Politik (Fear of Missing Out on Politics).
FOMO, yang biasa diartikan sebagai takut ketinggalan tren, kini merambah ranah politik. Pakar menilai, Gen Z rentan terbawa arus diskusi dan debat politik online yang masif, tanpa diimbangi dengan edukasi dan literasi politik yang kuat. Akibatnya, alih-alih memilih berdasarkan visi misi kandidat, mereka bisa jadi ikut arus memilih kandidat yang sedang ramai dibicarakan.
Medsos: Lapangan Pertempuran Opini
Media sosial, yang tak bisa dipisahkan dari keseharian Gen Z, menjadi medan pertarungan opini politik. Konten-konten berbau politik, mulai dari meme lucu hingga debat kusir antar pendukung, membanjiri lini masa. Belum lagi, hadirnya buzzer dan influencer yang kerap “menggeber” dukungan terhadap kandidat tertentu.
Di sinilah FOMO Politik berpotensi muncul. Gen Z, yang aktif berinteraksi di media sosial, tak ingin terlihat ketinggalan tren. Mereka mungkin merasa perlu ikut ambil bagian dalam perbincangan politik, meski belum tentu memiliki bekal pengetahuan yang cukup. Akibatnya, mereka bisa saja terjebak ikut-ikutan mendukung kandidat tertentu hanya karena sedang ramai dibicarakan.
Dampak FOMO Politik
Dampak dari FOMO Politik bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah potensi terpolarisasi. Media sosial, dengan algoritmenya, kerap memunculkan konten yang sesuai dengan preferensi penggunanya. Akibatnya, Gen Z hanya terpapar informasi yang mendukung kandidat pilihan mereka, dan tak terpapar sudut pandang lain. Polarisasi ini bisa berujung pada perdebatan sengit dan saling serang di media sosial, yang tentunya tidak sehat untuk demokrasi.
Dampak lainnya adalah rendahnya partisipasi politik yang berkualitas. Jika Gen Z hanya ikut arus tanpa dibekali pengetahuan yang cukup, dikhawatirkan mereka akan memilih berdasarkan hal-hal yang dangkal, seperti popularitas kandidat atau janji-janji yang muluk-muluk. Akibatnya, suara yang mereka berikan tidak didasarkan pada pertimbangan yang matang.
Menangkal FOMO Politik: Tips untuk Gen Z
Lalu, bagaimana agar Gen Z bisa terhindar dari FOMO Politik? Berikut beberapa tips:
- Jangan hanya mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi politik. Carilah informasi dari sumber yang kredibel, seperti media massa nasional yang bereputasi baik, website resmi KPU, atau lembaga survei yang terpercaya.
- Jangan terpaku pada popularitas kandidat. Gali informasi mengenai visi misi, rekam jejak, dan program kerja masing-masing kandidat.
- Jangan terjebak dalam polarisasi. Buka diri untuk mendengarkan sudut pandang dari kubu yang berbeda.
- Ikuti diskusi dan debat politik yang berkualitas. Banyak lembaga maupun kelompok yang menggelar diskusi atau debat politik yang menghadirkan para kandidat.
- Jangan ragu untuk bertanya. Manfaatkan media sosial untuk bertanya langsung kepada kandidat mengenai kebijakan atau program yang mereka usung.
- Bergabunglah dengan komunitas diskusi politik yang sehat. Cari komunitas yang fokus pada pembahasan substansial dan menghindari saling serang.
Lebih dari Sekadar Ikut Arus
Pemilu adalah momen penting untuk menentukan masa depan bangsa. Suara Gen Z sangatlah berharga dan bisa menentukan arah Indonesia ke depannya. Jangan biarkan FOMO Politik menghalangi Anda untuk menggunakan hak pilih secara cerdas.
Ingat, memilih kandidat pemimpin bukanlah sekedar ikut tren, namun langkah menentukan untuk masa depan Anda sendiri. Jadilah pemilih yang cerdas dan kritis, dan gunakan suara Anda untuk kebaikan bersama.