Kerinduan Padamu Ibu oleh Tauhid Ichyar

Malam itu aku bermalam di Bandara Soetta  Cengkareng karena harus mengejar pesawat pertama ke Medan yang berangkat pukul 05.25 WIB. Jam tangan menunjukan pukul 22.00 WIB. Ini merupakan pengalaman yang sedikit tak mengenakanku, sebab belum pernah aku menginap dibandara. Kabar dari adik bungsuku kemarin sore yang mengatakan emak kurang sehat, kemungkinan harus opname membuatku harus segera pulang ke-Medan, janji dengan Manager Smartpren dan Alfamart untuk Mou pada program system Acuntansi yang harus bertemu siang tadi kubatalkan. Aku ingin melihat kondisi Ibu secepatnya. Uang dua puluh lima juta langsung kutransferkan kerekening sibungsu Taufan adikku, untuk jaga-jaga bila Ibu harus opname.

Malam tadi Tora ponakannku mengantarku kebandara Soetta, paginya jam 5.00 WIB, Ia harus bekerja, rumahnya di Bekasi, butuh 2 jam sampai bandara. Informasi dari security bandara diterminal 1A ada Red Corner, mushola yang juga nyaman untuk stay semalam. Meskipun saling terhubung antara terminal 1A, 1B hingga 1C, tetapi jarak tempuh untuk melewati ketiga section tersebut lumayan jauh, akhirnya kuputuskan untuk stay di terminal 1C.

Perutku terasa keroncongan, baru kuingat  sejak sore tadi  belum terisi makanan, kucari-cari tempat untuk beristirahat sejenak sembari makan malam. Ada sebuah outlet KFC terletak di sisi parkiran terminal 1C. Mushola juga terletak di sisi seberang dari terminal kedatangan 1C.  Syukurnya ada KFC yang buka  24 Jam. Akhirnya kurebahkan tubuh dikarpet hijau panjang Mushollah. Tas bawaan yang berisi laptop kudekap erat didadaku, takut hilang, sebagian memori otakku sejak sepuluh tahun terakhir sudah pindah ke dalamnya. Mungkin karena kecapean urusan sepanjang hari siang tadi, sebentar saja aku terlelap. Pukul 03.00 WIB aku terjaga, tubuh lumayan teristirahatkan. Bersihkan diri ditoilet, wuduk, qiamulail, baca qur’an dan berkemas untuk kemudian check-in.

Saat check-in, pintu masuk di terminal keberangkatan terlihat ramai. Sebagian orang mungkin juga sedang mengejar penerbangan pagi ke tujuannya masing-masing.  Waktu keberangkatan pesawatku 05.25 WIB, pukul 04.55 mulai boarding. Waktu subuh 04.40 WIB. Ada waktu sekitar 15 menit untuk melaksanakan sholat Subuh. Aku terburu-buru masuk dalam pesawat, seorang pramugari menyapaku, “ selamat pagi, seat berapa pak,?” sapanya lembut, “pagi, diseat 44 B,“ jawabku singkat, “silahkan pak”. Kulepas ransel jinjing dan meletakannya dibagasi, seorang bapak kira-kira berusia 70 tahunan duduk sendiri diseat 44 A, kami duduk pas bersebelahan.

Sambil menunggu pesawat take off yang akan menerbangkan  kami ke Medan, Ia menyapaku.“ mau ke Aceh juga ya nak” sapanya padaku, “ ndak pak, saya ke Medan, pak. Bapak mau ke Aceh ?”, jawabku tersenyum. Kuperhatikan wajahnya dan logatnya, aku yakin Ia bukan orang Aceh, “ iya,” jawabnya lagi sambilan menyodorkan tangan kepadaku, kusambut tangannya, sambil mencium tangan, kebiasaanku yang diajarkan Ibu kalau berjabatan tangan dengan orang tua, apalagi sebaya orang tua kita. “Bapak sendiri berasal dari Aceh?”, kataku lagi, “nggak, saya dari Solo, kebetulan sepupu saya ada di Aceh, sekedar bersilaturahim aja nak.” Jawabnya, senyumnya datar.

Menghela napas panjang. “Anak kerja dimana ?”, saya sih pak, masih programer IT freeline”, jawabku seadanya.  “Programmer freeline, tapi sudah cukup mapan, ya nak?” Ia tersenyum.” gak juga pak, saya tinggal di Semarang, di Jakarta ada bisnis dengan Smartpren dan Alfamart, Ibu saya di-Medan sedang kurang sehat, adik bungsu saya menelepon kemaren, jadi buru-buru harus urus Ibu dulu” jelasku padanya, “wah, Ibu kamu bangga, punya anak berbakti seperti kamu nih nak”, “kalau saya sangat mapan nak, tapi jiwanya galau, alias tak tahu mau kemana,” jawabnya menghiba. Aku tertegun dalam hati, “koq bisa gitu ya”, “maksudnya apa pak ?” jawabku sedikit heran.

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah mapan dan berkecukupan. Yang sulung bekerja di Perusahaan Kanada, di sebuah perusahaan kontraktor terkemuka dunia. Dan tinggal di Perancis sejak sepuluh tahun terakhir, sedangkan sibungsu, bersuami pengusaha retail, memiliki seorang putra. Saat ini sedang menyelesaikan program graduate of the Master of Public Administration in International Development program at the Kennedy School of Government, Harvard University.

Ia bercerita tentang rumahnya yang cukup mentereng di kawasan elit Pantai Indah Kapuk Jakarta, yang hanya dihuni oleh dirinya seorang, ditemani  dua orang satpam, dua orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, Ia menyeka airmata dengan tissue, sesakali tersedu. Lanjutnya lagi, “nak bahagia sekali ibumu, memiliki anak-anak yang sayang kepada orang tuanya, saya gagal mendidik anak-anak saya,” lanjutnya lagi, “ harta saya berlebih, kini terasa sia-sia saja. Rasanya tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini.

Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Saya sadar, semua ini akibat kesalahan masa lalu yang selalu memburu hidup dengan kemewahan, sampai lalai mendidik anak-anak beragama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua”, katanya dengan derai air mata yang terus mengucur.

Lanjutnya lagi, “ hal yg paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya opname di RS Harapan Kita, kanker servix telah menggerogoti tubuhnya, anak saya yang sulung hanya berkirim WA tak bisa pulang mendampinginya, hanya alasan sepele, harus meeting dengan koleganya. Sibuk, mereka berdua sangat sibuk. Iya, sibuk sekali. Sementara sibungsu sebagaimana sisulung mengabari lewat WAnya, “maaf papa dan mama saya sedang mid-test, jangan sampai gagal, tahun ini harus selesai, semoga mama cepat sembuh,” Ia menjawab lewat WA, padahal mamanya sedang menghadapi sakratul maut saat itu”, ceritanya lagi, air mata semakin menetes deras.

Aku tak tahu harus berbuat apa,“ bapak harus bersabar.”, tidak ada kalimat lain yang bisa kuucapkan selain itu. Ia tersenyum kecut. Ia mengelus bahuku dan aku jadi teringat almarhum ayah di-Medan 15 tahun lalu. Spontan saya memeluk Bapak tersebut. Tanpa sadar air mata ini menetes deras, kejadian ini semakin menyadarkanku, bahwa mendidik anak tujuannya shaleh bukan kaya. Tanpa kita santunipun rejeki anak sudah dijamin Allah, namun tidak ada jaminan keimanan bagi anak yang tidak didik agama, orang tua harus berusaha keras mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang shaleh.

Menjelang landing dibandara KNIA, kerinduan kepada Ibu dan adik-adikku semakin terasa, hampir setahun Ibu tak kucium tangan dan pipinya, sebagaimana kebiasaanku setiap pergi dan pulang sekolah. Bersama keluarga dari Semarang mudik ke-Medan setiap tahun rasanya kurang cukup melepas keriduan kepadanya. Teringat masakannya, teringat kelembutannya, teringat kasih sayangnya.

Kulempar pandangan ke luar jendela, kota Medan sudah terlihat jelas disinari cahaya pagi diatas ketinggian 16.000 kaki. Aku tahu Taufan adik bungsuku menginap menjaga Ibu opname, Ia hampir seperti aku, bila Ibu sakit permisi kerja, bersegera merawat ibu, sengaja tak kukabari kalau pagi ini aku menjenguk Ibu dan adik-adiku di-Medan.

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Sosial

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *